Studi Media

Blog Studi Kajian Media_Blackboard
Mari Tetap Peduli Dhuafa...

Gelisah Karena Pujian

Oleh Enjang Muhaemin

Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si alim atas kesalehan dan kealimannya. Mendengar berbagai pujian tersebut si alim menjadi gelisah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim.

Pada suatu pagi, ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. Sesampainya di pasar, secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. Karena tertangkap basah, maka ia pun dipukuli banyak orang. Ayam dikembalikannya, dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. Orang sepasar akhirnya bergumam, “Oh! Ternyata ia pura-pura alim, padahal sebenarnya tak lebih seorang maling.”

Mendengar omongan seperti itu, ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. Setibanya dia di rumah ia langsung sujud syukur, “Alhamdulilah ya Allah, kini aku beribadah bukan karena manusia, tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata.”

Kisah sufistik yang diangkat M Bangbang Pranomo dalam tulisannya pandangan kesupian tentang diri manusia itu menarik kita renungkan. Kisah sufistik itu seakan menunjukkan betapa tidak ringannya bila kita ingin mengabdi dan beribadah pada Allah secara tulus. Sang sufi merelakan kharisma dan citra dirinya remuk redam di mata manusia.

Sungguh sebuah pengorbanan yang amat berharga. Perilaku seorang hamba Allah yang berusaha menyucikan dirinya dari beragam ria, sombong, dan takabur. Jelas, ini adalah sebuah pelajaran yang amat berharga di tengah zaman yang gila pujian dan mendewakan penghargaan manusia.

Ia tak ingin ibadahnya karena manusia. Ia ingin tulus karena Allah, bukan karena yang lain. Ini adalah sebuah ‘adegan’ yang jauh berbeda dengan era kini, di tengah orang berbuat baik hanya sebagai kedok atas perilakunya yang buruk dan jahat. Di zaman yang edan ini, manusia yang jahat dan gemar beramal sekadar untuk menutupi perilaku buruknya, sungguh bukan hal yang aneh.

Cerita sufistik yang sarat pesan itu, tampaknya bertolak belakang dengan realitas yang kini terjadi. Bila ia menutupi ibadahnya dengan pura-pura berbuat jahat, agar ibadahnya itu benar-benar hanya karena Allah, orang sekarang malah sepertinya melakukan perilaku sebaliknya, berpura-pura menjadi orang yang baik padahal tak lebih dari seorang maling.

Keburukan akhlaknya, dan kejahatan perilakunya ditutupi dengan begitu rapat seakan tak boleh ada celah sedikit pun yang terbuka. Sikap kedermawanan dan penampilannya yang bak seorang alim ditunjukannya secara demonstratif, sebuah kepura-puraan yang indah di mata manusia, tapi buruk dalam pandangan Allah.

Manusia tipe itu, tentu saja tergolong manusia yang lupa Allah, gila penghargaan manusia. Pujian manusia dinilai lebih penting dibanding pahala dan balasan Allah. Ia tak peduli Tuhannya, yang ia pedulikan hanya pujian manusia. Sungguh amat kerdil dan menyedihkan.[]
Selengkapnya...

Di Balik Ibadah Qurban

Oleh Enjang Muhaemin

Foto: Website Muhammadiyah
Anda hanya dapat dekat
dengan Allah,  
bila Anda mendekati
saudara-saudara Anda  
yang berkekurangan.

[Jalaluddin Rakhmat, 1998:279]

Itulah pesan inti yang tercermin dari ibadah qurban. Kata “qurban” itu sendiri, seperti kita ketahui, berasal dari kata “qaruba, yaqrubu, qurbaan,” yang artinya “dekat”. Maknanya sangat jelas, ibadah qurban merupakan sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri pelaku qurban kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang satu berdimensi ritual, yang satunya lagi berdimensi sosial.  

Dimensi ibadah qurban, dengan demikian, tak ubahnya dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Secara teologis, ibadah qurban, merupakan salah satu ibadah yang dilakukan dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah (hablumminallah). Dan secara sosiologis dan psikologis, ibadah yang satu ini juga sebagai ikhtiar mendekatkan diri para pelaku qurban kepada sesama manusia (hablumminannas).

Berhasil tidaknya proses pendekatan itu tentunya kembali kepada Anda sebagai orang yang melakukan qurban. Kunci utamanya hanya dua: keikhlasan dan ketakwaan! Pertama, ketika Anda ber-qurban karena ria, ingin dipuji orang, atau mempunyai tendensi pribadi yang bersifat pamrih, berarti Anda tidak ikhlas. Qurban Anda bukan karena Allah, tapi karena manusia, atau karena tujuan yang tidak dibenarkan syara’. Bila ini yang terjadi, maka nyaris dapat dipastikan, qurban yang Anda lakukan, bukan hanya tidak akan berbuah pahala, tapi juga tidak akan mampu mendekatkan Anda kepada Sang Khalik.

Dalam konteks sosiologis, orang yang ber-qurban tanpa dilandasi dengan keikhlasan, juga tak akan berhasil membangun ‘jembatan’ kedekatan kepada sesama. Kalau pun terjadi hanya akan bersifat semu, dan sementara. Ketika kedok terbongkar, maka kedekatan itu akan pudar dan menghilang. Terlebih bila Anda menujukkan kesombongan dan kecongkakan secara demonstratif, maka yang muncul bukanlah kedekatan, tetapi justru akan melahirkan antipati dan rasa benci.

Pokok kunci kedua, adalah ketakwaan. KH Isa Anshary mengatakan takwa adalah menempatkan diri kita di tempat yang disukai Allah, dan tidak menempatkan diri kita di tempat yang tidak disukai Allah. Dalam koridor ketakwaan ini, maka ibadah qurban harus diposisikan sebagai refleksi dan bukti ketaatan Anda di dalam menjalankan titah dan perintah Allah, bukan titah dan perintah yang lainnya.

“Ruh’ yang muncul dari ketaatan Anda, juga mesti tercermin nyata dalam pemahaman, kesadaran, dan perilaku ber-qurban yang dilakukan. “Daging-daging unta, dan darahnya itu, sekali-kali tidak akan mencapai keridlaan-Nya, tetapi ketakwaan dari yang ber-qurban.” (QS. Al-Hajj : 37).

Sebagai ajaran yang agung dan luhur, Islam menghendaki ibadah qurban yang Anda lakukan bisa benar-benar menjadi jembatan penghubung yang mampu mendekatkan Anda pada ‘kemesraan’ dengan Allah, dan hubungan yang harmonis dengan sesama di lingkungan hidup Anda keseharian. Bila ibadah qurban yang Anda lakukan benar-benar berbasis keikhlasan dan ketakwaan, insya Allah, Anda bukan hanya akan dekat dengan manusia, tetapi juga akan dekat dengan Sang Pencipta.  

Kesalehan Sosial

Selain memiliki dimensi kesalehan ritual, ibadah qurban, juga berdimensi kesalehan sosial. Ini termaktub jelas di dalam Alqur’an. “….lalu makanlah sebagian dari sebagian dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian yang lainnya) orang fakir yang sengsara.” (QS. 22:28). Bila puasa mengajak Anda merasakan lapar seperti laparnya orang-orang miskin, maka ibadah qurban mengajak orang-orang miskin untuk merasakan nikmatnya makan seperti nikmatnya Anda makan. Islam mengajarkan, bila Anda memiliki kenikmatan, maka bagikan dan sebarkanlah kenikmatan itu kepada orang lain.  

Banyak orang yang mendekatkan diri kepada Allah, kata Jalaluddin Rakhmat, dengan mengisi masjid-masjid atau rumah ibadat yang sunyi. Benar, Islam tidak hanya mengajarkan cara seperti itu. Islam juga mengajak Anda untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengisi perut-perut yang lapar, dan membantu kebutuhan orang-orang yang tidak mampu. Penuhi kebutuhannya, bantu kekurangannya, dan gembirakanlah hatinya.

Ketika Musa a.s. bertanya, “Ya Allah, di mana aku harus mencari-Mu?”, Allah menjawab, “Carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya hancur.”

Dalam hadits qudsi diriwayatkan bahwa nanti pada hari kiamat, Allah mendakwa hamba-hamba-Nya: “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberi-Ku makanan. Dahulu Aku telanjang, dan kalian tidak memberi-Ku busana. Dahulu Aku sakit, dan kalian tidak memberi-Ku obar.”

Waktu itu yang didakwa berkata: “Ya Allah, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makanan, pakaian, dan obat, padahal Engkau Rabb Al-Alamin.”

Lalu Tuhan bersabda, “Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, telanjang dan sakit. Sekiranya kamu mendatangi mereka—mengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang, mengobati sakit mereka—kamu akan mendapatkan Aku di situ.” ***

Penulis, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.  
Selengkapnya...

Pendiri UIN SGD Prof. KH.O.Taufiqullah Meninggal Dunia

Rabu, 09/11/2011 - 13:49
BANDUNG,(PRLM) Salah seorang pendiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD), Prof. KH. O. Taufiqullah meninggal dunia, Selasa (8/11) sekitar pukul 19.00 WIB di RS Al Islam. Jenazah Almarhum disemayamkan dan disalatkan di kampus UIN SGD pada Rabu (9/11) pukul 8.00 WIB sebelum dimakamkan di Majalengka.

Salat jenazah dilakukan Rektor UIN SGD Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, para pembantu rektor, dekan, karyawan, dan para mahasiswa yang memadati Masjid Al Iqamah UIN SGD Jln. AH Nasution. "Kami semua merasa kehilangan atas kepergian Prof. Taufiqullah yang merupakan salah satu pendiri UIN saat bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) pada tahun 1968," ucap Nanat sambil mengucurkan air mata karena pernah diajar Almarhum Taufiqullah.

Sekretaris Senat UIN SGD, Prof. KH. Pupuh Fathurrahman mengatakan, Almarhum meninggal pada usia 74 tahun yang sampai akhir hayatnya masih menjadi guru besar Ilmu Hadis Fakultas Syariah dan Hukum. "Insya Allah Almarhum meninggal dunia dalam keadaan syahid karena selain mengajar juga aktif di kegiatan sosial seperti Ketua Badan Amil Zakat (BAZ) Jabar," ucapnya.

Selain itu, Almarhum juga masih menjadi ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Siliwangi Cimahi. "Almarhum sempat menjabat di IAIN SGD dari kepala urusan pegawai, sekretaris IAIN, pembantu rektor, dekan Syariah, dan beberapa jabatan lainnya," katanya. Sebagai seorang sahabat, menurut Pupuh, Almarhum terkenal rendah hati, sopan santun, dan ucapannya lembah lembut. "Saya tak pernah melihat Almarhum meluapkan kemarahannya di depan umum. Bahkan kepada mahasiswa dan bawahan juga tetap bersikap sopan," katanya.

Dengan meninggalnya Prof. KH. O. Taufiqullah berarti menyusul kepergian guru besar UIN SGD lainnya yakni Prof. Dr. H. Hendi Suhendri dan Prof.H. Wardi Bachtiar. "Dalam setahun ada tiga guru besar UIN SGD yang meninggal dunia sehingga kaderisasi guru besar harus dipercepat," katanya. Saat ini jumlah guru besar UIN SGD hanya 34 orang yang masih aktif.

"Jumlah guru besar UIN SGD memang masih banyak dibandingkan UIN Syarif Hifayatullah Jakarta maupun UIN Sunan Kallijaga Yogyakarta. Kami merasa miris dengan makin berkurangnya jumlah guru besar," katanya.(A-71/kur)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/165013  
Selengkapnya...

Kata-kata Indah di Hari Fitri

Oleh Enjang Muhaemin

yugo21.blogspot.com
Waktu mengalir bagaikan air
Bulan Ramadhan nan suci sudah berakhir
Idul Fitri telah hadir…
Jika ada luka yang pernah terukir
dan ada khilaf dosa yang mampir
Sucikan hati, maafkan lahir & batin

Wawan sekeluarga


Sebagai makhluk sosial, tentunya sudah lazim bila kita berinteraksi dengan manusia lainnya. Dari mulai kegiatan kecil hingga aktivitas besar, dari mulai bertegur sapa hingga bekerjasama. Di balik itu semua, mungkin ada khilaf dan alpa, baik yang disengaja maupun yang tidak. Kewajiban kita, sebagai manusia yang tidak lepas dari salah dan dosa, adalah bertaubat kepada Allah SWT, dan meminta maaf kepada sesama.

 
Tepat rasanya bila di hari Idul Fitri 1432 H, yang tinggal beberapa hari lagi, kita bersiap diri membuka hati untuk meminta dan memaafkan sesama. Syukur bila kita bisa bertatap muka dan berjabat tangan, saling meminta dan memaafkan secara langsung. Namun bila hal itu tak bisa, tak ada alasan untuk tidak melakukan. Teknologi mutakhir sudah memungkinkan segalanya: bermaaf-maafan tanpa harus bertatap muka. Bisa melalui kartu lebaran, e-mail, status di situs jejaring sosial, bisa juga berkirim pesan singkat melalui SMS.


Pendeknya, tak ada alasan untuk tidak bermaaf-maafan. “Banyak jalan menuju Roma,” kata sebuah peribahasa.


Berikut beberapa contoh ucapan kata-kata permohonan maaf di hari Fitri, yang dapat dikirim memalui SMS atau di-update di status situs jejaring sosial. Ucapan-ucapan atau kata-kata yang terangkai indah ini, saya dapatkan dari sejumlah sumber, internet dan juga yang dikirim rekan-rekan ke hp saya. Terdapat dua bahasa: Bahasa Indonesia dan Basa Sunda. Semoga membantu dan bermanfaat. Amiin.

UCAPAN IDUL FITRI
Bahasa Indonesia


Senandung dzikir jernihkan pikir
Untaian do’a bersihkan jiwa
Berjuta maaf sejukkan kalbu
Selamat Idul Fitri….
Taqabbalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir batin


Sumiyati

Mohon maaf
atas segala kesalahan yang telah diperbuat
baik yang disengaja maupun tidak
Taqobbalallahu minna wa minkum
Minal ‘aidin wal faizin


Fikri n’ Family

Taqobballallohu
Minna wa Minkum
Syiamana wa Syiamakum

Berharap padi dalam lesung,
yang ada cuma rumpun jerami
Harapan hati bertatap langsung
cuma terlayang SMS ini
Mohon maaf lahir dan batin


Cucu R

Satukan tangan
satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
di hari suci
Kita padukan keikhlasan
untuk saling memaafkan


Tita & Keluarga

Kami sekeluarga
Mengucapkan Selamat Hara Raya Idul Fitri 143… H
Mohon maaf atas segala kekhilapan
dan kealpaan.

Dudung


Takbir, tahmid, dan tahlil
berkumandang mengantarkan gema hati
memohon ampunan Allah, Tuhan semesta alam
Takbir, tahmid, dan tahlil
berkumandang mengantarkan hati
untuk dengan tulus dan ikhlas mengucapkan
“Selamat Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faidzin”
Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan


Herman


Sepuluh jari tersusun rapi…
Bunga melati pengharum hati…
SMS dikirim pengganti diri…
Memohon maaf setulus hati…
Maaf lahir dan batin,
Met idul fitri…


Nia


Dalam kerendahan hati
ada ketinggian budi.
Dalam kemiskinan harta
ada kekayaan jiwa.
Hidup ini terasa indah
jika ada maaf.
Taqabalallahu Minna Waminkum…


Diana & Keluarga

UCAPAN IDUL FITRI
Basa Sunda


Bilih aya tutur saur teu kaukur
Reka basa nu pasalia
Laku lampah nu teu merenah
Nu ngaraheutkeun manah,
Neda hapuntenna
Haturan…
Wilujeng Boboran Shaum
“Minal ‘Aidin wal Faizin,
Taqobbalallohu Minna wa Minkum.”


Asep sakalih

Wilujeng Boboran Siam
1 Syawal 143… H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Ma’af lahir dan batin


Hambali sekeluarga

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Wening galih nu dipamrih
Jembar manah nu diseja
Ti luhur sausap rambut,
ti handap sahibas dampal
Neda sihapuntenna
samudaya kalepatan
Wassalamu’alaikum

Dede & Keluarga


Wilujeng Boboran Siam 143…. H
Hapunten tina saniskanten
Kalelepatan, kaluluputan
Ti lahir dugi batin

Budi sarimbit
Selengkapnya...

Menampilkan ayat Alquran di Ms Word

MUNGKIN Anda mengalami kesulitan saat memasukkan ayat Alqur’an ke dalam Microsoft Word. Padahal, ayat Alqur’an tersebut misalnya sangat penting ditampilkan, baik untuk menjaga keotentikan ayat, penerjemahan, maupun bagi kepentingan dakwah atau penulisan karta ilmiah yang mewajibkan adanya ayat Alqur’an.

Langkah-langkah berikut, sangat boleh jadi akan sangat membantu. Anda tinggal melakukannya tahap demi tahap. Langkah-langkahnya adalah:

1. Pastikan Anda sudah menginstal atau memiliki program Microsoft Word, Paint dan Alqur’an Digital di komputer Anda.

2. Buka Microsoft Word, lalu Paint (Untuk program Paint, silakan klik start –> all programs –> accessories –> paint). Jangan lupa buka pula program Alqur’an Digital. Bila program yang terakhir belum Anda miliki silahkan silakan download dari sini.

3. Buka Alqur’an Digital, lalu cari ayat yang akan ditampilkan dalam microsoft word. Kemudian arahkan kursor ke tulisan ayat Alqur’an, lalu klik kanan mouse dan klik copy.

4. Setelah itu, silakan masuk ke program paint, dan klik select (icon persegi panjang dengan garis putus-putus), kemudian klik paste.

5. Pada program paint, Anda dapat merapihkannya.

6. Bila sudah rapih, klik save as, kemudian berikan nama file pada ayat tersebut. Saya sarankan Anda mengubah formatnya menjadi JPEG (merubah format dapat dilakukan pada kotak save as type yang berada dalam file name).

7. Pada Ms Word, klik insert–> picture–> pilih file ayat Alqur’an tersebut.

Keuntungan Anda menggunakan format gambar atau JPEG, tentu saja ketika file karya tulis Anda dibuka di komputer lain, tidak akan hilang teks ayatnya. Semoga bermanfaat!


Selengkapnya...

BELAJAR BIKIN WEBSITE » DAPATKAN PANDUANNYA DI SINI. DITUNJANG BERAGAM SOFTWARE DAN FULL SUPPORT. DAFTAR SEGERA!
http://www.resepbisnis.com/?id=rohman

Mau Gabung?

Recent Comments

Entri Populer

Opini Media dan Agama

Agama dan Media

Blog Kajian Media

Blog Kajian Media